Mlai terbiasa dgan semua ini... bertman sepi, dan menyendiri...
Jumat, 21 Februari 2014
Pertolongan Pertama pada Stroke
Pertolongan Pertama Pada STROKE
Orang yg kena STROKE mendadak (jatuh dr WC dsB), pembuluh darah ke otak akan pecah sedikit demi sedikit.
Ingat,untuk mengatasi hal ini janganlah gugup/panik.
Jika korban berada di tempat kejadian seperti dikamar mandi/ruang tidur/ruang tamu dll. JANGAN dipindah2kan ke tempat lain, karena akan percepat pecahnya pembuluh darah, dan janganlah sampai dia terjatuh lg.
Cara pertolongan pertama adl dengan mengeluarkan darah korban dgn menggunakan jarum yg telah dibakar/disteril yg kemudian ditusukkan ke ujung setiap jari masing2 sampai darahnya keluar± 1-2 tetes. Kalau darahnya tidak keluar dapat diurut sampai keluar, sesudah itu korban akan sadar setelah beberapa menit kemudian.
Jika korban mulutnya miring, tariklah kedua daun telinganya sampai merah dan langsung tusuk bagian bawah daun telinga dg jarum steril sampai darah keluar ± 1-2 tetes. Setelah korban sadar dan mulutnya sudah pulih kembali, barulah dibawa ke dokter/RS.
Biasanya orang yg terkena STROKE pembuluh darahnya akan lebih cepat pecah karena goncangan dalam perjalanan ke RS/dokter. Orang tsb dapat tidak sadar kembali/pingsan dan biasanya akan cacat/lumpuh.
(Kita harus ingat MENGELUARKAN DARAH dari jari orang yg terkena STROKE, maka kita sudah bisa menolong orang tsb dari penyakit STROKE)
copasan
Walahuallam
Selasa, 18 Februari 2014
Dalam Jarak Sejauh Ini
Dalam Jarak Sejauh Ini
Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa kita harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan kutahu kautak ada di sisiku. Sejauh ini kita masih bertahan, entah mempertahankan apa. Karena yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata; selebihnya bayang-bayang.
Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham saat-saat dingin mencekam, kamu tak duduk di sampingku, juga tak mendekapmu dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, hanya ada tanganku (bukan tanganku) yang menghapus basah di pipiku. Jelaskan padaku, apa yang selama ini membuatku masih ingin bertahan?
Aku hanya bisa menatap fotomu. Diam-diam merapal namamu dalam doa. Mendengar suaramu dari ujung telepon. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata; aku begitu meyakinkanmu, bahwa tak ada yang salah di antara kita. Dan, apakah di sana kaumemang baik-baik saja? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu???
sayang, aku lelah.
pulanglah
Senin, 17 Februari 2014
Menjaga Senyumnya
Alex masih bersandar di dinding, menatap seorang pria yang sedang tidur dengan berbagai macam alat medis di tubuhnya. Tetesan air infus mengalir pelan, tabung oksigen turut bekerja aktif, semuanya terdiam, juga seseorang yang sejak tadi memegang tangan pria itu. Genggaman tangannya melemah, matanya sembab, wanita itu lelah menangis. Perutnya semakin hari semakin besar, hampir delapan bulan kandungannya. Hanya bisa memandangi,Alex masih terdiam dan tak banyak bergerak. Ia menatap sekeliling kamar, sepi, sunyi. Electro cardio graph,monitor yang menunjukkan grafik detak jantung itu naik turun tak berirama, bahkan hampir datar, detak jantungnya tidak stabil. Wanita itu menghela napas berat, ada beban yang sangat mengangganjal bahunya. Ia tak tidur selama beberapa hari untuk menjaga kekasihnya. Malam semakin larut, wanita itu mengantuk, tapi tidak dengan Alex. Ia tak mampu merasakan kantuk, ia juga tak mampu merasakan rasa lelah. Tapi, Alex mengerti walaupun dia tak merasakan apa-apa. “Belum kaucabut juga nyawanya?” sapa suara yang terdengar begitu dekat, Alex menoleh ke sumber suara. “Belum waktunya dia mati, nampaknya Tuhan ingin memberikan dia kesempatan.” jawab Alex tenang, disaat-saat seperti ini ia memang tak ingin banyak bicara. Azurine, teman yang tadi menyapa Alex malah terbang kesana-kemari mengelilingi kamar rumah sakit. Ia memang paling tidak bisa diam, ia suka bermain, seperti anak kecil. Entahlah, tak pernah ada yang tahu berapa umurnya, Alex juga tak tahu umurnya. Tapi, Alex dan Azurine memang tak perlu tahu umur mereka, ratusan atau bahkan ribuan tahun tak penting bagi mereka. Mereka hanya ditugaskan untuk mencabut nyawa seseorang, tanpa pernah tahu asal-usul roh mereka sendiri. “Pria itu jahat Alex, cabut saja nyawanya. Bukankah sinyal kematian begitu kuat terpancar dari dirinya?” tanya Azurine santai, kini ia membuat awan dan duduk menghadap Alex. “Orang jahat juga punya kesempatan untuk berubah.” tanggap Alex tenang, kini ia berjalan mendekati wanita yang perutnya berisi janin delapan bulan. Ia memeluk wanita itu dengan penuh kasih, namun tak terasa. Lengannya malah menembus tubuh wanita itu. “Dia menghamili wanita itu, dan dia hampir mati karena kecerobohannya sendiri, mengendarai mobil dalam keadaan mabuk bersama dengan seorang wanita bayaran. Dia murahan.” “Manusia pasti melakukan kesalahan, Azurine.” Alex tak lagi memeluk wanita berperut besar itu. Ia berjalan menghampiri temannya. “Tapi, manusia bisa berubah, dengan cara mereka sendiri.” “Jika kaumencabut nyawanya, akan berkurang jumlah orang jahat di dunia ini.” seloroh Azurine memburu, ia memberi tanggapan asal saja. Alex tahu benar karakter Azurine, ia suka hal yang terburu-buru. Tuhan sering marah pada Azurine, karena seringkali datang disaat-saat yang tidak tepat. Tapi, adakah saat kematian yang tepat? Memangnya manusia tokoh wayang Bhisma, yang bisa menentukan waktu yang tepat untuk mati? “Aku tidak memikirkan pria itu, tapi aku memikirkan wanita ini, wanita yang mengandung anak pria itu. Anak mereka.” “Wanita itu sama bodohnya, paling-paling Tuhan juga akan mengambil nyawanya ketika ia melahirkan. Manusia bodoh, mau saja tergoda nafsu, lupa larangan Tuhan, selalu ingin dekat dengan hal-hal yang menyedihkan hati Tuhan.” “Kaubukan manusia, Azurine. Jangan sok tahu.” “Aku bisa mengerti, tapi tak mampu merasakan.” “Kalau begitu, jangan ambil persepsi sendiri. Tuhan marah nanti kalau kamu menilai ciptaanNya dengan mudah tanpa memikirkan kejadian sebenarnya.” Azurine menertawakan tindakannya. “Kamu berbeda Alex, mengapa untuk tugas menjemput kali ini, kaubegitu dingin dan membuat semuanya berlarut-larut?” ` “Semua sama saja, aku menjemput manusia dengan keadaan sederhana. Tak ada yang berbeda, aku datang lalu jika belum waktunya, maka aku hanya sekadar datang, tapi tidak menjemput.” “Sudah waktunya, Alex. Tapi, entah mengapa kauseperti mempertahankan sesuatu, melawan kehendak Tuhan.” “Tahu apa kamu tentang Tuhan, Azurine?” Alex tak mampu menahan tawanya, ia duduk di bibir tempat tidur sambil menatap pria yang tertidur dan sudah lama tak bangun itu. “Tak begitu tahu, tapi aku mengerti. Ada yang kaututupi, juga kausembunyikan.” “Kamu sok tahu lagi.” “Ada apa Alex?” suara Azurine terdengar serius, ia berusaha membaca tindakan Alex, namun ia merasa gagal. “Aku sudah lama memerhatikan wanita ini, lama sekali. Sejak ia masih dalam kandungan ibunya, sejak ia belajar merangkak, berjalan, bertumbuh, menjadi remaja, dewasa, lalu bertemu dengan pria ini.” “Lantas?” “Wanita ini berbeda.” “Semua ciptaan Tuhan bukannya sama?” “Tidak, kali ini berbeda. Percayalah padaku, Azurine.” “Sejak kapan kaubersamanya?” “Aku selalu bersamanya, bahkan saat ia berhubungan badan dengan pria itu.” “Kautidak mencegahnya?” “Aku berusaha keras, namun dia tidak melihatku.” “Kamu tidak melapor pada Tuhan?” “Sudah, kataNya biarkan saja wanita itu terjerumus dalam dosanya sendiri. Ia akan tahu akibatnya setelah dosanya memengaruhi takdir dan hidupnya.” “Itu pasti pekerjaan iblis!” “Iblis tak harus selalu disalahkan, Azurine. Tugasnya memang menggoda, tapi jika manusia terjatuh karena godaan Iblis, itu adalah kesalahannya sendiri.” “Tapi, pria itu jahat! Kamu terlalu banyak basa-basi, Alex! Cepat cabut nyawanya!” Alex terdiam, seperti menimbang-nimbang sesuatu di dalam otaknya. Ia menatap pria itu, juga wanita yang sejak tadi menjaga dengan setia di samping tempat tidur. Alex tak banyak bergerak,sesekali ia menatap Azurine yang matanya membulat, seperti memerintahkan Alex untuk mencabut nyawa pria itu. “Aku mencintai wanita ini.” “Kaubercanda, Alex! Malaikat hanya mengerti cinta, tapi dia tak mampu merasakannya.” “Tapi, dengan wanita ini, aku bisa merasakannya.” “Lihatlah, kaumelucu!” Alex tertunduk. “Jika aku mencabut nyawa pria ini, wanita yang mengandung anaknya akan selalu bersedih. Dia akan tersakiti oleh air matanya, aku tak sanggup melihat hal itu.” “Kaupercaya bahwa kebahagiaan wanita ini adalah jika pria itu kembali terbangun dan hidup?” Tanpa pikir panjang, Alex mengangguk. “Wanita ini terlalu baik, karena terlalu baik sehingga banyak orang yang menyakitinya. Aku lelah melihat wanita yang kucintai disakiti terus-menerus.” “Kaugila, Alex!” “Terserah, tapi aku tak ingin melihat wanita ini menderita.” “Dia tak tahu duniamu, Alex! Dia bahkan tak mengenalmu! Buka matamu!” Alex tersenyum manis, nampaknya ia tak peduli pada perkataan Azurine. Ia mengepakan sayapnya dan berputar di langit-langit. “Senyum wanita ini begitu penting bagiku, dan aku akan terus menjaga senyumnya.” “Dia tidak mengenalmu, Alex! Wanita ini tak akan pernah mengenalmu!” “Dia akan mengenalku, tapi bukan kali ini. Di surga nanti, kita juga akan bertemu, apa bedanya?” “Kausungguh yakin?” “Aku beritahu Tuhan dulu, kalau Dia setuju, aku akan menjemput pria itu nanti. Kalau Dia tak setuju, aku akan menjemput nyawa pria ini secepatnya.” “Tapi, Alex....” “Wujud cinta tidak menyakiti.” “Wanita ini tak melihatmu, Alex!” “Tidak penting bagiku, aku hanya ingin menjaga senyumnya.” “Kautak tahu arti cinta yang sesungguhnya!” “Aku memang tak perlu mengerti, tapi aku cukup merasakannya.” “Kaugila, Alex!” “Kalau sudah tahu, mengapa masih menasehati orang gila?” Alex tertawa geli, ia meninggalkan rumah sakit dan terbang jauh memasuki awan hitam. Ia ingin bertemu Tuhan. Segera
http://dwitasarii.blogspot.tw/2012/07/menjaga-senyumnya.html?m=1
Mungkin, aku terlalu berharap banyak
Tidak semua yg saya tulis adalah saya,
Tidak semua yg kamu baca adalah kamu.
Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.
Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?
Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah?Bisakah?
Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan –juga kautinggalkan?
Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.
Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.
Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?
Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.
Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!
Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.
Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.
dari seseorang yang kehabisan cara membuktikan rasa cintanya.
Jazzy Green
Ciiiluk Baaa
Followers
Labels
- 11.19 wib (1)
- 240 dan 350 (1)
- grosir Rp. 30.000 *untk pembelian lbh dri 50 botol (1)
- harga ecer Rp. 27500 (1)
- http://archive.kaskus.co.id/thread/14930603/0#1 (1)
- http://dwitasarii.blogspot.tw/2012/06/mungkin-aku-terlalu-berharap-banyak.html?m=1 (1)
- http://dwitasarii.blogspot.tw/2012/10/dalam-jarak-sejauh-ini.html?m=1 (1)
- ingatkah saat2 indah qt? (1)
- Merdeka.com (1)
- Rp. 1.800.000 (1)
- Rp. 250.000 (1)
- Rp. 95rb (2)
- sudah termasuk ongkiqg ke seluruh Indonesia. (1)
- termasuk ongkir k seluruh Indonesia (1)
- Vh (1)